Menguak Tabir Haul Rebo Wekasan di Suradadi

- 13 Oktober 2020, 19:37 WIB
Ada 35 ulama yang didoakan saat Haul Rebo Wekasan di Suradadi /

KABAR TEGAL - Haul Rebo Wekasan di Desa Suradadi, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal merupakan tradisi rutin setiap tahun bagi masyarakat di desa tersebut. Pencetus haul ini, seorang ulama yang bernama KH. Zainal Arifin.

Semula, haul itu dilakukan untuk memperingati wafatnya KH Afroni bin KH Abdus Salam, yang merupakan ayah kandung dari KH Zainal Arifin. Wafatnya persis pada Rabu di minggu terakhir di bulan Shafar 1960 di Sugihwaras, Tanjungsari, Kabupaten Pemalang.

Sebelum wafat, almarhum berwasiat kepada KH. Zainal Arifin dan keluarganya supaya dimakamkan di Suradadi bersebelahan dengan makam istrinya, Ny. Maryam yang telah meninggal lebih dulu. Setelah meninggal dunia, jenazah KH Afroni akhirnya di bawa ke Desa Suradadi. Kala itu, di wilayah Pemalang belum banyak kendaraan bermotor. Jalan juga masih sepi. Meski tidak ada kendaraan bermotor, tapi KH Zainal Arifin tetap semangat. Dia langsung membawa jenazah ayahnya dari Sugihwaras Pemalang menuju Suradadi dengan menggunakan sepeda onthel. Jarak dari desa tersebut hingga lokasi pemakaman di Suradadi sekitar 13 kilometer.

Baca Juga: LSM Benmas, Projo dan Foreder Kab. Tegal Mengutuk Keras Anarkisme

"Jenazah dinaikkan sepeda onthel. Sedangkan para pelayat berjalan kaki," kata Tubagus Fahmi, salah satu cucu dari KH Afroni, saat ditemui Selasa (13/10/2020).

Tubagus menuturkan, haul pertama untuk mendoakan kakeknya itu, dilakukan pada tahun 1961. Tepatnya hari Rabu 27 Shafar 1381 H (13 Agustus 1961). Awalnya, haul dilakukan secara sederhana. Tujuannya untuk memperingati wafat kakeknya. Namun, haul itu dilakukan hanya tiga tahun. Pihak keluarga hanya menggelar pengajian di tahun-tahun berikutnya. Terlebih saat meletusnya Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G 30 S PKI) di tahun 1965, haul semakin sulit karena tidak diijinkan oleh pihak-pihak terkait.

"Tapi setelah tahun 1967, acara haul kembali digelar dengan pengajian akbar," ujarnya.

Baca Juga: Pemkab Tegal Undang Investor Bangun PLTB Berkapasitas 67,2 Megawatt di Margasari

Tubagus melanjutkan, acara haul semakin besar ketika tahun 1971. Sebab, sejumlah tokoh agama, ulama dan masyarakat Suradadi dilibatkan. Hal itu diawali dengan rapat dan musyawarah bersama para tokoh di desa tersebut. Yaitu, Kepala Desa Suradadi Sodikin, tokoh agama H. Abdul Halim, KH. Muhammad, KH. Abdul Latif, KH. Rosyidi dan sejumlah tokoh masyarakat lainnya. Di tahun itu, haul dilaksanakan meriah. Karena tidak hanya untuk memperingati wafatnya KH. Afroni, tapi juga para ulama dan sesepuh penyebar agama Islam di Suradadi. Dan hingga kini dikenal dengan istilah Haul Rebo Wekasan atau Haul Tradisi Rebo Wekasan Suradadi Tegal. Meski begitu, KH Zainal Arifin tetap sebagai penanggung jawab dan Shohibul Haul Suradadi, hingga beliau wafat.

Halaman:

Editor: Chaerul Azmi


Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X