Kasus Bunuh Diri Novia Widyasari, Pakar Hukum Minta Oknum Polisi Kekasih Korban Dihukum Berat

5 Desember 2021, 15:09 WIB
Ahli Hukum Pidana dan Dosen Hukum Pidana Universitas Trisakti, Dr. Azmi Syahputra, SH, MH /Kabar Tegal / Anis Yahya/

KABAR TEGAL - Jagad medsos sempat gempar dengan terjadinya peristiwa bunuh diri seorang mahasiswi Universitas Brawijaya, Novia Widyasari yang tewas diatas pusara ayahnya.

Novia Widyasari ditemukan tewas diduga diperkosa kekasihnya sendiri yang oknum anggota kepolisian, Kamis, 2 Desember 2021 sore.

Dari kasus tersebut, Dosen Hukum Pidana Universitas Trisakti, Dr. Azmi Syahputra, SH, MH kepada Kabar Tegal Pikiran Rakyat menyampaikan pandangannya bahwa kepolisian harus bergerak cepat menemukan bukti dan memilih kausalitas yang relevan dan spesifik.

Baca Juga: Oknum Polisi Penulis Komentar Miring Nanggala 402 Terancam Pidana 6 Tahun

Jika dalam penyelidikan pihak kepolisian ditemukan bukti dan fakta bahwa kekasihnya yang oknum polisi tersebut ada keterkaitan penyebab bunuh diri, maka harus dimintai pertanggungjawaban pidana.

"Kenakan sanksi pidana maksimal bagi pelaku oknum polisi yang menyebabkan mahasiswi bunuh diri," ujar Azmi Syahputra kepada Kabar Tegal yang dikirimkan melalui WhatsApp, Sabtu, 4 Desember 2021 malam.

Menurutnya, kasus bunuh diri mahasiswi Universitas Brawijaya (UB) Novia Widyasari tengah menjadi keresahan sosial dan sorotan publik.

Baca Juga: Penembakan di Cengkareng, Propam Polri Pecat Bripka CS dan Lakukan Proses Pidana

Pasalnya, Novia Widyasari ditemukan tewas pada Kamis , 2 Desember 2021 yang diduga ia menjadi korban kekerasan seksual oleh kekasihnya sendiri yang merupakan oknum anggota kepolisian Polres Pasuruan.

Dari kasus seperti ini kepolisian harus bergerak cepat menemukan bukti dan memilih kausalitas yang relevan dan spesifik.

Jika dalam penyelidikan oleh kepolisian ditemukan bukti dan fakta bahwa kekasihnya yang oknum polisi tersebut ada keterkaitan dan ada keterhubungan perbuatannya menjadi penyebab bunuh diri, maka jelas disini telah timbul dari akibat perbuatan pelaku karenanya dapat dimintai pertanggungjawaban pidana.

Baca Juga: Diduga 'Pesta Narkoba', Sanksi Pidana Menanti Kompol Yuni Cs

"Perlu dipertimbangkan dan disisir semua keadaan sebelum kejadian bunuh diri ini, termasuk fakta - fakta dan alat bukti terutama alat bukti elektronik.

Alat bukti elektronik jika dihubungkan dapat ditemukan persesuaian kejadian, dan hasil temuan tersebut berdasarkan ukuran umum menurut akal sehat dan ilmu pengetahuan yang objektif.

Terutama diarahkan terhadap orang yang dinilai paling berpotensi bertanggung jawab atas terjadinya bunuh diri tersebut.

Baca Juga: Dekan Fisip Unri Jadi Tersangka Dugaan Pelecehan Seksual Mahasiswi Bimbingan Skripsi

Dr. Azmi Syahputra mendorong kepolisian untuk mencari penyebab terdekat atas kasus ini.

Termasuk dugaan pihak - pihak lain yang mengintervensi korban, bila nyata ditemukan gadis ini bunuh diri karena dugaan ia korban perkosaan dan apalagi padanya disarankan untuk aborsi," urainya.

Selanjutnya menurutnya, korban menjadi depresi berat, maka bagi pelaku kekerasan seksual tersebut harus dikenakan delik tersendiri berupa delik kekerasan seksual tindak pidana pemerkosaan.

"Maupun ketentuan pidana terkait aborsi serta terapkan ancaman pidana penjara 10 tahun ditambahkan 1/3 pemberatan hukuman bagi pelaku oknum polisi tersebut maupun jika ditemukan bukti ada pihak lain yang mengintervensi korban sebagai pelaku turut serta," tutup Dr. Azmi Syahputra.***

Editor: Lazarus Sandya Wella

Tags

Terkini

Terpopuler