Tarif Cukai Naik, Karyawan Pabrik Rokok Menjerit

- 15 Oktober 2020, 08:56 WIB
Sejumlah karyawan pabrik rokok di Desa Munjungagung, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal sedang memproduksi rokok, Kamis (15/10). /

ĶABAR TEGAL - Tarif cukai rokok rencananya bakal naik. Hal ini membuat sejumlah buruh pabrik rokok Sigaret Kretek Tangan (SKT) di Kabupaten Tegal menjerit. Mereka khawatir jika tarif cukai naik tentunya Harga Jual Eceran (HJE) SKT juga bakal naik. Dengan begitu, konsumen rokok bakal berkurang dan penjualan rokok juga menurun. Kondisi itu dapat mengancam pengurangan karyawan di pabrik rokok. Di Kabupaten Tegal, ada satu pabrik rokok ternama yang berada di tepi Jalan Pantura Desa Munjungagung, Kecamatan Kramat.

"Kami berharap Ibu Bupati Tegal Umi Azizah dapat membantu kami untuk tidak menaikkan tarif cukai dan HJE, serta tetap memperlebar harga rokok golongan SKT dan SKM," kata Widiya Andriyani dan Ria Ambar Lestari, pengurus dari Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan Minuman (SP RTMM) Pengurus Unit Kerja (PUK) PT Tegal Jaya Makmur Sejahtera, Kamis (15/10).

Dia mengungkapkan, pabrik rokok SKT yang berada di Desa Munjungagung itu menyerap 1800 tenaga kerja. Dari jumlah itu, 97 persen perempuan dan sebagian ijazah pendidikannya SMP. Mereka merupakan tulang punggung keluarga, karena suaminya bekerja sebagai petani, nelayan dan buruh lepas. Sejauh ini, pendapatan mereka sudah di atas Upah Minimum Kabupaten (UMK). Sejak 5 tahun terakhir, para buruh di perusahaan tersebut khawatir karena produksi rokok mengalami penurunan. Parahnya lagi di tahun 2020 ini. Selain karena kenaikan tarif cukai dan HJE yang tinggi, juga dihadapkan dengan pandemi Covid-19.

"Kami sangat khawatir, karena kenaikan cukai dan HJE untuk SKT di tahun 2021 bisa menambah beban berat yang dipikul industri, sehingga mengancam keberlangsungan tenaga kerja di SKT," ungkapnya.

Dia membeberkan, saat ini produk SKT mengalami kesulitan bersaing dengan rokok buatan mesin. Segmen SKT memiliki produktifitas yang sangat jauh lebih rendah dari rokok mesin. Perbandingannya, untuk 1 unit mesin mampu memproduksi 16.000 batang rokok per menitnya. Jumlah tenaga kerjanya juga sedikit, hanya 12 orang untuk 3 shift. Sedangkan SKT, hanya mampu memproduksi maksikal 6 sampai 7 batang per orang per menit.

"Karena itu lah, kami mohon kepada Ibu Bupati dra Umi Azizah selaku pemerintah Kabupaten Tegal supaya dapat membantu kami, tarif cukai tidak dinaikkan. Kebijakan cukai sangat berarti bagi kami untuk mempertahankan tenaga kerja SKT," tandasnya. 

Editor: Dasuki Raswadi


Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X